Tapsel, tbntimes.com – Yayasan Rumah Aspirasi & Perjuangan Jurnalis Independen (RAPJI) memilih Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, sebagai titik awal gerakan perjuangan jurnalis di wilayah terdampak bencana alam.
Di daerah yang mengalami dampak bencana cukup parah itu, RAPJI bersama Komunitas Wartawan Kristen, JCS Medan dan linnya akan menggelar pertemuan dengan jurnalis dan pekerja media, sekaligus menyalurkan bantuan bagi mereka yang terdampak langsung dalam menjalankan tugas jurnalistik.
Koordinator sekaligus pendiri RAPJI, Heryanson Munthe, mengatakan kondisi pascabencana di Tapanuli Selatan memperlihatkan kerentanan kerja jurnalis yang kerap luput dari perhatian.
“Dalam situasi bencana, jurnalis tetap bekerja di lapangan, tetapi keselamatan dan kesejahteraan mereka sering kali tidak menjadi prioritas. RAPJI ingin hadir di titik itu,” kata Heryanson.
Menurut Heryanson, kegiatan di Tapanuli Selatan tidak hanya berupa pertemuan, tetapi juga diarahkan pada investigasi jurnalistik pascabencana. Fokusnya adalah menggali dampak bencana terhadap masyarakat sekaligus melihat langsung kondisi kerja jurnalis dan pekerja media di lapangan. Ia menilai, tekanan fisik, psikologis, dan ekonomi sering kali dialami jurnalis saat meliput bencana, terutama di daerah-daerah dengan keterbatasan dukungan.
“Selain diskusi dan investigasi jurnalistik, kami juga menyiapkan penyaluran bantuan bagi jurnalis dan pekerja media di sejumlah lokasi yang telah ditentukan panitia. Bantuan ini adalah bentuk solidaritas sekaligus pengakuan atas peran jurnalis dalam situasi krisis,” ujar Heryanson, yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2014.
RAPJI sendiri dibentuk sebagai yayasan nirlaba dan independen yang bertujuan memperjuangkan kemerdekaan pers serta perlindungan bagi mereka yang bekerja di sektor informasi publik. Keanggotaan RAPJI tidak hanya terbatas pada wartawan, tetapi juga mencakup pekerja media, penulis independen, konten kreator, koresponden lepas, serta aktivis media sosial yang berkontribusi pada kepentingan publik.
Secara organisasi, RAPJI membuka ruang pembentukan kepengurusan di berbagai daerah di Indonesia agar advokasi dan solidaritas terhadap jurnalis dan pekerja media dapat dilakukan lebih dekat dengan persoalan di lapangan.
Pendekatan ini, kata Heryanson, diperlukan agar perjuangan pers tidak terpusat di kota-kota besar semata, tetapi juga menyentuh wilayah-wilayah yang menghadapi krisis dan bencana.
Di Tapanuli Selatan, RAPJI juga akan mendeklarasikan pendiriannya pada 10 Februari 2026, sehari setelah peringatan Hari Pers Nasional. Namun bagi RAPJI, momen tersebut bukan sekadar seremoni.
“Yang utama adalah keberpihakan pada jurnalis dan pekerja media yang tetap bekerja di tengah keterbatasan dan risiko. Dari Tapanuli Selatan, kami ingin memulai perjuangan itu,” kata Heryanson. ***
















