Medan, tbntimes.com – Wakil Ketua I Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Medan, *Abdul Fikri Ginting, M.Sos*, menyoroti pentingnya keberpihakan organisasi terhadap kader, khususnya setelah kader menyelesaikan proses pendidikan, pengkaderan, dan mulai memasuki dunia profesional.
Menurutnya, kaderisasi tidak seharusnya berhenti pada proses formal seperti Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA), Pelatihan Kader Dasar, Pelatihan Kader Lanjut, maupun berbagai forum organisasi lainnya. Kaderisasi justru harus dilanjutkan melalui pemberian ruang, kepercayaan, jaringan, serta kesempatan kepada kader untuk berkembang.
“Jangan bicara regenerasi jika kader sendiri tidak diberi ruang. Kita terlalu sering berbicara tentang kaderisasi, tetapi jarang bertanya, setelah kader selesai dikader, setelah pendidikannya selesai dan kapasitasnya terbentuk, ke mana mereka harus melanjutkan perjuangannya?” ujar Abdul Fikri Ginting.
Ia mengatakan, selama bertahun-tahun kader PMII dididik untuk membaca, berdiskusi, berorganisasi, memperluas wawasan, membangun jaringan, serta menempa mental kepemimpinan. Banyak kader bahkan mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan materi untuk membesarkan organisasi.
Karena itu, menurut Fikri, menjadi ironi apabila ketika kader telah memiliki kompetensi, pendidikan dan kemampuan yang memadai, organisasi justru tidak memberikan ruang yang cukup untuk mereka berkembang.
“Ketika ada peluang pekerjaan, mengapa kader tidak diingat? Ketika ada kesempatan akademik, mengapa kader tidak didorong? Ketika ada jaringan yang bisa dibukakan, mengapa pintu itu tidak dibuka untuk kader? Kita tidak meminta kader diberi sesuatu yang bukan haknya. Yang kita minta adalah kesempatan yang adil bagi kader yang memang memiliki kapasitas,” tegasnya.
Fikri juga menyoroti fenomena ketika kader kerap dicari saat organisasi membutuhkan tenaga, massa, kepanitiaan, maupun dukungan dalam berbagai agenda. Namun, pada saat kader membutuhkan bantuan organisasi untuk membuka akses terhadap pendidikan, pekerjaan, jaringan profesional maupun ruang pengabdian, respons yang diterima terkadang tidak sebanding.
Menurutnya, kondisi seperti ini harus menjadi bahan evaluasi bersama agar kader tidak merasa hanya dibutuhkan ketika organisasi memiliki kepentingan.
“Kader bukan tenaga gratis organisasi. Kader bukan sekadar angka dalam database dan bukan hanya massa ketika dibutuhkan. Kader adalah investasi jangka panjang organisasi,” katanya.
Ia menilai regenerasi yang sesungguhnya bukan sekadar pergantian kepemimpinan dari satu periode ke periode berikutnya. Regenerasi harus dimaknai lebih luas sebagai transfer pengalaman, pengetahuan, jaringan, kepercayaan, kesempatan dan ruang hidup dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
“Kalau senior hanya mewariskan cerita kejayaan tanpa mewariskan kesempatan, maka regenerasi kehilangan substansinya. Senioritas bukan mahkota dan bukan kekuasaan. Menjadi senior adalah tanggung jawab untuk membuka jalan bagi generasi berikutnya,” ungkap Fikri.
Menurutnya, keberhasilan seorang senior justru dapat dilihat ketika kader-kader setelahnya mampu berkembang dan bahkan melampaui pencapaian generasi sebelumnya.
Ia berharap kader PMII yang memiliki kemampuan dalam bidang akademik, organisasi, kewirausahaan, kepemimpinan, sosial, politik maupun profesi lainnya dapat dipetakan dan didorong secara serius.
“Mungkin di sekitar kita ada kader yang baru menyelesaikan S1, sedang menyelesaikan S2, memiliki kemampuan menulis, berwirausaha, menjadi akademisi, profesional, atau memiliki kapasitas kepemimpinan. Jangan tunggu mereka mengetuk pintu berkali-kali. Panggil mereka, tanyakan apa yang sedang mereka perjuangkan, kemudian bantu bukakan jalannya,” katanya.
Fikri mengingatkan bahwa pengabaian terhadap kader dalam jangka panjang dapat berdampak pada hilangnya ikatan emosional antara kader dengan organisasi.
Menurutnya, kader mungkin masih tercatat sebagai anggota maupun alumni PMII, tetapi apabila berkali-kali merasa tidak mendapatkan ruang dan perhatian, bukan tidak mungkin rasa memiliki terhadap organisasi akan perlahan berkurang.
“Organisasi tidak mati hanya karena sekretariatnya kosong. Yang lebih berbahaya adalah ketika kader-kader terbaiknya berhenti percaya kepada organisasinya sendiri,” ujarnya.
Ia mengatakan, PMII merupakan rumah bersama yang dibangun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu, jaringan yang dimiliki oleh kader maupun senior seharusnya tidak berhenti sebagai aset pribadi, tetapi menjadi instrumen untuk memperluas kesempatan bagi kader berikutnya.
“Jaringan organisasi bukan warisan pribadi. Kesempatan juga bukan milik satu generasi. Jika dahulu kita pernah dibantu senior, diperkenalkan kepada jaringan dan diberikan kesempatan, maka sudah menjadi tanggung jawab kita untuk melakukan hal yang sama kepada junior,” jelasnya.
Menurut Fikri, satu kader yang diberikan kesempatan hari ini dapat menjadi pintu bagi banyak kader lainnya pada masa mendatang. Begitu pula kader yang dibantu hari ini berpotensi menjadi orang yang kelak menjaga dan membesarkan PMII ketika generasi hari ini tidak lagi berada dalam struktur organisasi.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen PMII untuk kembali memaknai kaderisasi tidak sebatas proses mencetak anggota, tetapi sebagai proses merawat dan memastikan kader dapat tumbuh setelah mengikuti seluruh proses organisasi.
“Jangan hanya bertanya apa yang sudah kader berikan kepada PMII. Sesekali kita juga harus bertanya kepada diri sendiri, apa yang sudah kita berikan kepada kader setelah bertahun-tahun mereka memberikan waktu dan kehidupannya untuk PMII,” katanya.
Fikri menegaskan bahwa loyalitas kader tidak dapat terus-menerus dibangun hanya melalui doktrin organisasi. Loyalitas akan semakin kuat ketika kader merasa dihargai, diperhatikan, dipercaya dan merasakan organisasi hadir pada saat mereka membutuhkannya.
Ia pun mengingatkan agar PMII tidak kehilangan generasi terbaiknya bukan karena gagal melakukan rekrutmen, tetapi karena gagal merawat kader yang telah dibentuk selama bertahun-tahun.
“Jangan sampai sepuluh tahun mendatang kita bertanya mengapa kader terbaik tidak lagi bersama kita. Jangan sampai mereka tumbuh menjadi akademisi, pengusaha, birokrat, profesional, politisi, maupun pemimpin di berbagai sektor, tetapi merasa bahwa mereka berhasil justru setelah meninggalkan rumah yang dahulu tidak memberikan ruang kepada mereka,” ujarnya.
Pada akhirnya, menurut Fikri, masa depan PMII tidak hanya ditentukan oleh siapa yang mampu mempertahankan posisi dalam struktur, melainkan oleh seberapa banyak kader yang hari ini diberikan ruang untuk berkembang.
“Kaderkan mereka, didik mereka, percayai mereka, berdayakan mereka dan bukakan jalan bagi mereka. Jika kader kita besarkan, mereka akan membesarkan PMII. Jika kader kita jaga, mereka akan menjaga PMII. Jika kader kita berdayakan, mereka akan menjadi kekuatan PMII,” pungkasnya. (Mchl hrhp)
















