Padang Pariaman, tbntimes.com – Kasus hilangnya dua mahasiswi asal Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, yakni Siska Oktavia Rusdi (23) yang akrab disapa Cika, dan Adek Gustiana (24), hingga kini masih menjadi misteri besar. Tepat setahun setelah dilaporkan hilang pada 13 Januari 2024, keluarga kedua korban menyampaikan keluhan kepada media terkait lambannya proses penyelidikan.
Bertempat di kediaman keluarga Cika di Korong Kampung Kampar pada Senin (27/1/2025), keluarga mengungkapkan rasa kecewa mereka terhadap penanganan kasus yang dinilai minim perkembangan. “Kami sudah berusaha ke berbagai pihak, tetapi hingga kini belum ada kepastian. Kami hanya ingin Cika dan Adek ditemukan, apapun keadaannya,” ujar Nila Yusnita, ibu Cika, dengan nada penuh harap.
Cika terakhir kali terlihat pada 12 Januari 2024, pukul 09.00 WIB, saat ia berangkat bersama Adek menuju Kota Padang. Malamnya, keduanya tak kunjung pulang, sehingga keluarga segera melaporkan kejadian ini ke Polsek Batang Anai. Motor yang mereka gunakan ditemukan 11 hari kemudian di sebuah kebun di Kelurahan Koto Pulai, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, bersama sepasang sandal milik kedua korban.
*Kritik Terhadap Penanganan Kasus*
Yeni Murni, bibi Cika, mengungkapkan kekecewaannya terhadap pihak kepolisian. Ia menilai proses penyelidikan terkesan tidak serius. “Laporan kehilangan Adek masih ada di papan informasi Polsek, tetapi laporan Cika justru sudah tidak terlihat. Kami merasa diabaikan,” tuturnya dengan nada getir.
Selain itu Yeni murni juga menyebutkan tidak adanya laporan berita kehilangan anak yang diberikan kepolisian kepada pihak keluarga Cika.
Keluarga juga mengeluhkan minimnya pendampingan polisi dalam upaya pencarian. “Ketika sinyal terakhir ponsel Cika terdeteksi di Padang, kami diminta mencari sendiri tanpa pengawalan yang memadai. Sampai sekarang, hasilnya nihil,” tambah Nila.
“Ibu Cika sangat berharap polisi lebih serius menangani kasus ini. Setahun berlalu, tapi kami tidak mendapat kepastian apa pun,” ujar Yeni Murni, bibi Cika, sambil menahan tangis.
Nila Yusnita, ibu Cika, juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap lambannya proses penyelidikan. “Kami sudah melapor ke Polsek Batang Anai, Polres Padang Pariaman, hingga Polda Sumatera Barat. Namun, hingga kini belum ada kejelasan. Bahkan suami saya yang dulu berjuang bersama saya mencari Cika kini sudah tiada,” ungkapnya dengan isak tangis.
*Tanggapan Kepolisian*
Ketika dimintai keterangan, Kanit Reskrim Polsek Batang Anai menyatakan bahwa ia baru menjabat sehingga belum memahami detail kasus secara mendalam. Namun, rencana pertemuan dengan awak media batal karena ia mendapat panggilan mendadak dari Kapolres untuk membahas perkembangan kasus ini di tingkat Polres dan Polda.
Kapolsek Batang Anai, melalui sambungan telepon, mengarahkan awak media untuk menunggu hasil diskusi yang sedang berlangsung di tingkat yang lebih tinggi. “Kami masih mendalami kasus ini bersama Polres dan Polda. Mohon kesabaran dari pihak keluarga dan masyarakat,” ujarnya.
*Desakan Publik*
Kasus ini telah menjadi perhatian masyarakat Sumatera Barat, yang turut mempertanyakan minimnya perkembangan meskipun ada temuan awal seperti motor dan sandal yang sempat memberikan harapan. Banyak pihak mendesak kepolisian untuk segera memberikan kejelasan.
Keluarga berharap ada bantuan dari berbagai pihak, termasuk masyarakat, untuk memberikan informasi atau petunjuk yang bisa membantu menemukan Cika dan Adek. “Kami hanya ingin anak kami ditemukan, entah dalam keadaan apa pun. Tolong bantu kami,” tutup Nila dengan air mata yang tak terbendung.
Hingga kini, kasus hilangnya dua mahasiswi ini masih menjadi sorotan publik, menunggu keseriusan pihak berwenang untuk mengungkap kebenaran di balik peristiwa ini. (Ali)
















