Batam, tbntimes.com – Debat publik merupakan sarana pasangan calon peserta Pemilihan Kepala Daerah
menyampaikan visi misi dan ide gagasan untuk meyakinkan masyarakat.
Di tengah dinamika demokrasi kita, debat bukan sekadar formalitas, tetapi adalah tempat di mana kompetensi diuji dan visi dibedah. Apa yang disampaikan di panggung itu bisa memberi gambaran, mana calon yang benar-benar tahu persoalan dan mana yang hanya berbicara manis. Pemilih cerdas butuh bahan pertimbangan.
Mereka tidak cukup dengan janji-janji di baliho, tapi ingin melihat siapa yang benar-benar siap memimpin.
Ada beberapa catatan dalam pikiran penulis dalam debat kali ini mirip dengan ajang orasi tanpa arahan, kaya kata-kata tapi minim isi.
Yang lebih mengganggu, masing-masing paslon malah lebih sibuk saling serang dan mengkritik, ketimbang menawarkan solusi konkret. Bukannya fokus memaparkan program, mereka seperti lupa bahwa debat adalah panggung adu ide, bukan kampanye terbuka.
Dalam waktu sependek itu, butuh latihan agar pesan bisa disampaikan dengan tepat dan efektif.
Ada juga adegan konyol di mana masing-masing saling mempertanyakan kebijakan yang mereka buat sendiri. Ini menimbulkan kesan mereka hanya saling serang, bukannya menyampaikan visi untuk masa depan.
Akhirnya, publik bisa melihat jelas: mana yang tampil sungguh-sungguh. Pemimpin tidak hanya soal bicara, tapi juga soal ketulusan dan kemampuan untuk memberi solusi.
Tidak bisa dipungkiri, debat tidak selalu menentukan kemenangan. Tapi, debat bisa jadi referensi penting bagi pemilih yang belum menentukan pilihan. Di Padang Pariaman, debat adalah kesempatan untuk membandingkan para kandidat secara langsung. Dari bahasa tubuh, gaya bicara, dan cara mereka menjawab pertanyaan, masyarakat bisa menilai mana calon yang punya kapasitas dan mana yang hanya bergantung pada gimmick atau pencitraan.
Ketika paslon tidak siap atau asal bicara, itu akan langsung terlihat. Di era keterbukaan seperti sekarang, publik tidak mudah dibodohi. Apalagi bagi pemilih muda yang aktif di media sosial. Mereka tidak akan memilih hanya berdasarkan kata-kata manis, tapi juga melihat kredibilitas dan sikap calon selama debat. (Ali)
















